Sebuat Surat Iseng

Maaf, hanya bisa menulis surat singkat ini ke kamu. Maaf juga, harus mengirimnya ke kamu.

Apa kabar? Basa-basi standar, karena bertanya kabar lebih akan membuatku lega dengan jawaban kabar baikmu, ya kalo dijawab sih. Kalo nanya yang lain kadang bikin deg-degan, semacam nanya sekarang udah deket sama siapa, gitu. Tapi aku tidak bertanya, haha.

Kita jauh ya, kamu di sana dan aku di sini. Berjarak, yang benar-benar berjarak. Kadang setelah beberapa langkah menjauh, kita menoleh ke belakang hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.

Kemudian aku terdiam penuh tanya, dan mencoba mencari tahu apakah yang mengganjal di dada adalah benar suatu firasat, atau sekadar rasa penasaran. Kemudian kita memutuskan untuk terus berjalan karena tidak sanggup memilih untuk tetap tinggal meski tahu bahwa itu yang kita inginkan. Setelah lelah menunggu dalam ragu, akhirnya segala janji hanya berujung kepada harap, ambisi lenyap menyisakan pasrah, dan tawa menjadi senyum.

Maaf masih suka kepikiran, tapi kepikiran aja sih, ga disampaikan. (terus ini apa?)

Seems impossible not to regret, though. It has been a rough time since we were no longer together. There’s no a single day I spend without asking “what if?” to myself. And then at the end of each day, I can only feel sorry. It was love. I was in love, but you loved me.


I was good at loving but that wasn’t good enough to keep you stay.

Komentar

Postingan Populer